Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan

Debt Collector Cantik dan Seksi

Oleh Unknown

Andai debt collector seperti dia semua
 Debt collector cantik bisa menjadi solusi adanya tindakan kekerasan. Persepsi masyarakat tentang debt collector tentu dengan gambaran badan kekar berotot dan bertato, bertampang sangar, jika bicara kasar dan suka membentak-bentak, suka mengancam bahkan main pukul. Gambaran itu tidak selalu benar juga tidak selalu salah. Gambaran debt collector seperti di atas menemukan pembenar ketika tersiar berita ada seorang penunggak utang meninggal diduga dianiaya debt collector sebuah bank di Jakarta (detiknews.com). Atau, justru sebaliknya, ada seorang debt collector yang tewas dianiaya nasabah di Depok, Jawa Barat (detiknews.com).

Kejadian-kejadian kekerasan ini tidak akan terjadi jika pola pikir kreditur/pemberi utang  menggunakan mindset otak kanan. Seperti apa itu? Ini yang akan kita bahas.

Adalah Baron Mahadewa, mentor Entrepreneur University yang punya gagasan aneh (atau tepatnya gagasan gila) dan sudah diterapkan dalam layanan jasa penyedia debt collector. Apa itu? Debt Collector cantik-cantik dan seksi-seksi.  Sebagai perusahaan jasa penyedia debt collector, Baron Mahadewa merekrut cewek-cewek cantik dan seksi untuk menagih penunggak utang di sekitar ibu kota Jakarta. Ini merupakan kecerdikan dalam mengambil peluang bisnis khas otak kanan. Usaha rumahan ini terus digarap hingga menjadi usaha kecil dengan omset besar.
Cewek-cewek cantik ini menagih dengan lemah lembut dan sedikit menggoda para penunggak utang.  Apa yang terjadi? Ternyata dalam operasi menagih utang, tingkat keberhasilannya lebih tinggi dibanding menggunakan debt collector yang kekar, sangar, dan kasar tadi. Umumnya mereka justru lari dari kejaran debt collector, tetapi karena debt collectornya cantik-cantik dan seksi-seksi, para penunggak utang menjadi lebih enjoy menyambutnya.
Baron Mahadewa

“Dengan debt collector yang cantik-cantik dan seksi-seksi ini para penunggak utang justru sering kali menelepon ke kantor saya. minta ditagih,” kata Baron Mahadewa, mantan perampok bank (menurut pengakuannya sendiri). Akhirnya, pertemuan penunggak utang dan penagih utang menjadi lebih santai dan segar, sesegar penampilan Sang Debt Collector. Benar-benar cara berpikir otak kanan!


PS 1: Budaya kekerasan dalam menagih utang harus segera dihentikan.
PS 2: Gunakan saja debt collector cantik-cantik dan seksi-seksi.
Baca SelengkapnyaDebt Collector Cantik dan Seksi
Oleh: Malik Ibrahim
Usaha Rumahan, Updated at: 14.9.11

Otak Kanan yang Kreatif dan Inovatif dalam Bisnis

Oleh Unknown

Purdi E. Chandra


Otak kanan yang kreatif dan inovatif menurut Purdi E. Chandra sudah cukup memadai sebagai bekal terjun ke dunia bisnis, walau dalam skala usaha kecil menengah. Direktur Utama Primagama ini menilai banyak orang ragu dalam berbisnis karena terlalu pandai. Sementara itu, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh, justru menjadi seorang wirausaha yang sukses. Penyebabnya, menurut Purdi, jika orang terlalu pandai akan mengetahui risiko berbisnis, terlalu banyak pertimbangan, justru mereka tidak berani menerjuni bisnis. Takut gagal, akhirnya gagal mencoba. Celaka! Ya, kan? Ya, toh? Ini cara berpikir otak kiri. Sebagai entrepreneurship sejati, seharusnya mindset yang dibangun adalah konsep berpikir kerja otak kanan; action dulu, baru dipikir dan dievaluasi.

Perjalanan Purdi E. Chandra sebagai wirausahawan sukses selalu mengandalkan otak kanan, tidak banyak petimbangan. Jalankan dulu bisnisnya, baru mikir. Alasannya, kalau usaha sudah dibuka, pasti akan mikir. Mikir bagaimana agar usahanya jalan dan menghasilkan untung. Ya, kan? Ya, toh? Bondho  nekad jadi andalan. Ia tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama pada 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. Ia sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 167 cabang di lebih dari 106 kota.

Menyusul kemudian, Ia dirikan IMKI, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua itu dimulai dengan keberanian mengambil risiko.Bisa saja memulai usaha kecil menengah.

Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi dalam kesempatan wawancara dengan Edy Zaqeus dan David S. Simatupang yang dimuat di majalah Berwirausaha.
Baca SelengkapnyaOtak Kanan yang Kreatif dan Inovatif dalam Bisnis
Oleh: Malik Ibrahim
Usaha Rumahan, Updated at: 17.8.11

Bisnis Itu Mudah Jangan Dibuat Susah

Oleh Unknown

Royke Sahetapi
Bisnis itu mudah, jangan dibuat susah. Judul tulisan ini diambil dari pernyataan Royke Sahetapi, Mentor Entrepreneur University (EU) yang UNIK dan MENARIK. Unik karena cara dia memulai usaha kecil dengan usaha rumahan dan diawali dari hal-hal yang sangat sederhana. Bagi orang lain tidak dipandang sebagai peluang bisnis tapi bagi Pak Royke bisa menjadi peluang yang menghasilkan profit. Menarik karena dalam setiap sesi mentoring di Entrepreneur University Pak Royke tanpil atraktif dengan gayanya yang khas, gaya entrepreneurship modal dengkul.

Untuk memotivasi peserta agar segera action dalam wirausaha, peserta diajak melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan. Misalnya dengan berjoget, tertawa, atau teriak kencang. Ada-ada saja (mode ngedumel on). Ini juga yang dipraktekkan oleh Royke Sahetapi dalam bisnis, melakukan hal-hal yang tidak lazim.

Suatu ketika ada jual bakso lewat di depan rumah Pak Royke. Karena kebetulan perut lapar, dipanggillah tukang bakso itu. Ketika disantap ternyata bakso itu nikmat bin lezat. Muncullah  naluri bisnisnya. “Ini peluang yang saya cari,” gumamnya. Tawaran kerja sama pun diajukan kepada orang yang jual bakso itu.
“Mau, nggak saya ajak kerja sama?” action Royke.
“Kerja sama apaan?
“Ya, kerja sama jualan bakso, mau nggak?”
“Mau, dah! Tapi bagaimana caranya?”
“Begini.” Action Otak Kanan berlanjut. “Kamu beli rombong bakso lagi dan bikin bakso lebih banyak lagi.”
“Wah, bagaimana saya bisa dorong dua rombong, Pak?’ jawab si otak kiri.
“Waduh, ya cari orang yang mau dorong, dunk!”
“Lalu, uangnya dari mana?’
“Dari saya!”
“Oke, siap Bos!’ si tukang bakso langsung tanggap.


Singkat cerita, deal-lah kerja sama itu dengan modal awal 2,5 juta rupiah untuk beli rombong, bahan bakso dan membayar tukang dorong. Pembagian keuntungan setelah dikurangi biaya operasional disepakati: 80% untuk si tukang bakso dan 20% untuk Pak Royke.

Dari kerja sama jualan bakso ini Pak Royke mendapat bagian rata-rata 20 ribu rupiah per hari. Berarti satu bulan 600 ribu rupiah masuk kantong tanpa harus ikut kerja.
“Bank mana yang mau memberi bunga 600 ribu rupiah per bulan atas uang Anda yang 2,5 juta itu?” tanya Pak Royke kepada peserta mentoring Entrepreneur University.  Peserta pun hanya nyengir.

Masuk akal! Otak Kanan Pooll!
Kerjasama usaha  itu kemudian tumbuh menjadi usaha kecil menengah yang terus berkembang memiliki prospek peluang usaha 2012 yang bagus . Si tukang bakso tidak lagi ikut jual bakso keliling. Dia juga telah menjelma menjadi bos bakso dengan belasan armada. Ini sepenggal kisah yang menjadi bukti bahwa bisnis itu mudah maka jangan dibikin susah.
Baca SelengkapnyaBisnis Itu Mudah Jangan Dibuat Susah
Oleh: Malik Ibrahim
Usaha Rumahan, Updated at: 17.8.11